Ayudwie's Blog











{May 15, 2011}   WANPRESTASI

WANPRESTASI

Wanprestasi adalah pihak (berhutang) yang melanggar suatu perjanjian, yang mana ia tak melakukan apa yang telah dijanjikan.
Wanprestasi seorang debitur (berhutang) ada empat macam yaitu :
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.
b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya.
c. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat.
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Terhadap kelalaian atau kealpaan siberhutang itu (atau pihak yang wajib melakukan sesuatu), diancamkan beberapa sanksi atau hukuman. Dan hukuman atau sanksi tersebut dapat dibagi empat, yaitu :
1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dengan singkat dinamakan ganti-rugi.
2. Pembatalan, perjanjian atau juga dinamakan, “pemecahan” perjanjian.
3. Peralihan resiko.
4. Membayar biaya perkara, kalau sampai di perkarakan di muka hakim.
Karena wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu penting, maka harus ditetapkan terlebih dahulu apakah si berhutang melakukan wanprestasi atau lalai, dan kalau hal itu disangkal olehnya, harus dibuktikan di meja hijau. Banyak kasus yang tidak mudah untuk mengatakan bahwa seorang lalai atau alpa, karena seringkali juga tidak diperjanjikan dengan tempat kapan sesuai pihak diwajibkan melakukan prestasi yang dijanjikan.
Kepada debitur itu harus diperingatkan bahwa kreditur menghendaki pelaksanaan perjanjian.tentang bagaimana caranya meperingatkan seorang debitur agar supaya jika ia tidak memenuhi surat teguran itu, dapat dikatakan lalai, diberikan petunjuk oleh pasal 1238 kitab undang-undang hokum perdata,yang berbunyi : “siberhutang adalah lalai apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akte sejenis telah dinyatakan lalai, atau demi terikatannya sendiri ialah jika ini menetapkan bahwa siberhutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditempuh”.
Yang dimaksudkan dengan surat perintah itu ialah suatu perngatan resmi yaitu peringatan oleh seorang juru sita pengadilan.perkataan “akte sejrnis itu” yang sebenarnya oleh undang –undang dimaksudkan sebagai suatu peringatan atau tertulis, sekarang sudah lazim ditafsirkan sebagai suatu



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: